Asal Usul Desa Langon

13919986_967795566662805_1595126573547762395_o

Pada zaman dahulu kala abad ke 16  tepatnya sekitar tahun 1559 M ada seorang ulama’ besar atau kyai yang bernama Syekh Abdul Chamid bin Raden Rahmat seorang bangsawan dari keturunan kerajaan Mataram Nusa Tenggara Barat. Beliau adalah seorang perjaka muda yang sangat tampan rupawan bak pangeran dari kerajaan atas angin yang turun dari kayangan. wajahnya sangat ganteng kulit tubuhnya putih bersih, badannya tegap dengan penampilan yang sederhana, rendah hati, jauh dari kesombongan dan tutur sapanya halus sopan dan penuh makna. Walaupun beliau mempunyai ilmu yang sangat tinggi dan sangat sakti tapi tidak mau memamerkan ilmu dan  kesaktiannya kepada orang lain, dan suka menyembunyikan kehebatannya dengan berpenampilan seperti orang biasa. Dalam menjalani kehidupan sehari hari beliau dibantu oleh seorang abdi atau dayang-dayang perempuan yang diberi nama Siti Rukoyyah. Walaupun seorang abdi tapi parasnya sangat cantik dan masih muda. tubuhnya bersih rambutnya panjang tertata rapi dan tutur sapanya sopan penuh ketaatan dan kepatuhan. Seluruh kebutuhan sehari-hari seperti memasak, mencuci pakaian, dll dikerjakan dengan penuh pengabdian dan keihlasan oleh Siti Rukoyyah. Apa yang disukai dan tidak disukai ndoronya dia sangat mengerti. Salah satu  warna pakaian kesukaan ndoronya  adalah warna hijau sebagai lambang kemakmuran dan kebahagiaan. Sedangkan makanan kesukaannya adalah ikan  goreng. Jika beliau makan dengan lauk ikan goreng beliau suka nambah nasi berkali-kali. kemanapun Syekh Abdul Chamid bin Raden Rahmat berada dia selalu mendampingi siang malam tanpa mengeluh sedikitpun dengan perasaan senang hati dia bisa melayani junjungannya dengan baik.

 

Pada suatu hari beliau Syekh Abdul Chamid bin Raden Rahmat diutus untuk melakukan perjalanan RITUAL ( lelakon ) ke pulau tanah Jawa. Disamping lelakon beliau juga mempunyai misi menyebarkan agama islam ke wilayah-wilayah pedalaman yang masih abangan. Daerah – daerah pedalaman pulau Jawa terkenal dengan ilmu kesaktian yang sangat tinggi yang dimiliki oleh para dukun dan kepala adat. Sebelum beliau masuk ke tanah Jawa terlebih dahulu singgah di pulau Madura. Ada seorang kyai yang mempunyai ilmu agama yang sangat tinggi dan mempunyai ilmu  karomah kewalian yang sangat terkenal. Syekh Abdul Chamid bin Raden Rahmat menemui kyai itu untuk meminta ilmu dan doa restu agar perjalannya ke pulau tanah Jawa bisa  menghadapi rintangan – rintangan yang akan terjadi, sehingga bisa selamat dan berhasil,  karena pulau tanah jawa terkenal dengan kesaktian – kesaktian yang sangat tinggi yang dimiliki oleh pemuka-pemuka adat dan para dukun.

Setelah mendapatkan ilmu dan bekal yang cukup dari seorang kiyai beliau dengan menunggang kuda segera meninggalkan pulau Madura menuju ke pulau Jawa. Darerah yang dituju adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sampai perbatasan Jawa Barat yaitu kota Cirebon. Dalam perjalanannya beliau yang didampingi embannya menemui banyak sekali rintangan – rintangan. Medan perjalanan yang dilalui sangat sulit dan beragam. Panas terik mata hari, hujan badai,  naik gunung turun gunung dengan jurang yang sangat curam, melintasi hutan belantara yang belum terjamah tangan manusia (Alas Purwo)  dan angker, penuh dengan binatang buas, Jin dan Dedemit. Bahkan setiap beliau singgah di suatu daerah tidak sedikit para pendekar setempat yang ingin menjajal kekebalan dan kesaktiannya. Berkat doa dan restu kyai yang dari Madura itu setiap rintangan- rintangan yang bisa mengancam keselamatan jiwa mereka dapat dilalui dengan selamat.

 

Di tengah-tengah perjalanan, beliau singgah di daerah pedesaan yang terpencil di sebelah timur wilayah Kadipaten Jepara Jawa Tengah. Pedesaan yang sangat hijau dengan pohon – pohon besar di kanan kiri jalan-jalan setapak, yang dipenuhi dengan burung-burung berkicau yang sedang memadu kasih dengan pasangannya, sungai yang dialiri air yang sejuk dan bening dengan ikan-ikan di dalamnya yang sedang bermain-main, berenang-renang, seperti ikan wader, sruwet, udang, kutuk, dan lele. Daerah itu hanya dihuni oleh beberapa penduduk saja. Rumah yang mereka tinggali terbuat dari kayu jati, kayu nangka, sengon, weru, dan sebagian ada yang terbuat dari bambu, dengan atap terbuat dari daun rembulung ( welit ).  Jarak perumahan satu dengan yang lainnya sangat berjauhan dan masih dalam keadaan sepi.

 

Mata pencaharian mereka adalah bercocok tanam seperti padi, singkong, jagung, dan palawija lainnya. Ada pula yang memelihara ternak seperti sapi, kerbau, kambing, unggas dan lain- lain. Ada juga yang bermata pencaharian sebagai pembuat kerajinan dari kayu Jati seperti peturon, almari, Meja, kursi, dipan,  figura cermin, dan benda-benda kebutuhan rumah tangga lainnya. Benda- benda  kerajinan itu biasanya dipahat oleh tukang-tukang ukir yang handal dan professional dengan bentuk ukiran-ukiran yang sangat klasik dan artistic. Ketekunan, ketelitian, kedetailan dengan imajinasi yang kuat oleh para pengukir kayu, membuat barang-barang yang dihasilkan sangat memukau bagi yang melihatnya.

 

Kepercayaan yang dianut masyarakat saat itu adalah animisme dan dinamisme. mereka percaya bahwa semua benda itu mempunyai Roh Dan semua benda mempunyai kekuatan. Benda- benda seperti pohon Besar, batu besar, benda pusaka seperti keris, tumbak, batu akik mempunyai tuah dan kekuatan yang apabila diminta oleh mereka yang membutuhkan dapat membantu apa yang di kehendakinya bahkan bisa murka apabila Ia dihina dan tidak dimulyakan. Mereka sangat menghormati nenek moyang mereka yang sudah meninggal dunia. Petuah-petuah dan nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka sangat diuri-uri dan dipertahankan. Upacara-upacara untuk menghormati roh-roh nenek moyang sering dilakukan supaya ada harmoni diantara kehidupan mereka.

 

Sebelum masuk ke daerah tersebut Syekh Abdul Chamid bin Raden Rahmat didampingi embannya terlebih dahulu  bersilaturrahmi dan bertemu dengan para pemuka adat setempat. Beliau masuk dari rumah yang satu kerumah yang lain. Beliau memperkenalkan diri dan mengutarakan maksudnya agar diperkenankan tinggal di daerah itu. Diantara tokoh-tokoh yang sangat kharismatik dan sangat dihormati adalah Mbah Kramat, Mbah Nggelang, mbah Ndagan, mbah Slogo, Mbah Kojot, dan mbah Onggo. Tutur sapanya yang sangat santun,sopan dan bermakna membuat mereka tertarik dan betah untuk bercengkrama dan berbincang-bincang saling bertukar kaweruh dan bertukar pengalaman. Apalagi setelah mereka tahu, bahwa maksud kedatangannya adalah ingin bersama-sama mereka menyebarkan agama islam, karena mereka sebenarnya sudah pemeluk agama islam. Bahkan mereka bersedia menjadi muridnya dan siap membantu apa saja yang beliau butuhkan, sehingga beliau diberikan sepetak tanah yang berada di tengah-tengah pusaran pedesaan, dekat dengan kali, untuk dijadikan tempat tinggal.

 

Syekh Abdul Chamid bin Raden Rahmat segera membangun rumah sederhana sebagai tempat tinggal di sebidang tanah yang sudah diberikan itu. Selain membangun sebuah rumah sederhana beliau juga membangun sebuahLANGGAR ( pondok ) yang terbuat dari batu bata merah lengkap dengan tempat berwudlu, sebagai tempat peribadatan, bertapa dan tempat bermeditasi mendekatkan diri kepada sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa. Tempat wudlu tersebut adalah sebuah belik yang sangat jernih dan suci yaitu Belik Sari. yang di dalamnya dihuni oleh se-ekor kerangka dan kepala ikan tak berdaging. Ada Juga Raja Lele bergerombol, berpawai, berbaris,memecah kesunyian malam. Keberadaan ikan itu hidup sampai sekarang, kadang menampakkan sosoknya,memberikan pertanda dan pesan.Hanya orang orang tertentu, terpilih dan winasis yang bisa melihat keberadaan makhluk astral itu. Karena beliau membuat sebuah “Langgar” yang saat itu hanya satu satunya dan yang pertama kali maka masyarakat sekitar menyebutnya dirinya dengan sebutan “ Mbah Langgar “.

 

 

Dalam menjalankan dakwahnya beliau membuat padepokan disekitar rumah sahabat sekaligus muridnya Mbah kramat. Tempat itu dijadikan sebagai ajang latihan dan pendadaran ilmu- ilmu kanuragan sekaligus sebagai tempat berkumpulnya para pemuda desa. Dari hari ke hari muridnya bertambah banyak. Bahkan pemuda dari luar desapun ikut bergabung ngudi kaweruh,menyadap bisikan cakrawala, mengadopsi kebijaksanaan titah petua. Berita keberadaan padepokan itu menyebar luas di ruang hampa, membisikkan diantara daun telinga sampai ke luar perbatasan pedesaan. Banyak para pendekar yang mempunyai ilmu kadikdayaan dari luar desa itu yang penasaran, mendidih darah muda pendekar, ingin menjajal ilmu yang dimiliki oleh Syekh Abdul Chamid bin Raden Rahmat atau Mbah Langgar.

 

Pada tengah malam bulan purnama datanglah seorang pemuda yang gagah perkasa ke padepokan, yang terkenal memiliki ilmu kanuragan yang sangat sakti dari desa tetangga yaitu desa Ngabul. Pemuda itu adalah Kyai Joko Sari yang memiliki pusaka kyai Jago Komplong yang sangat ampuh. Dia menemui Syekh Abdul Chamid bin Raden Rahmat dan mengutarakan maksudnya agar berkenan ngudi kaweruh bertarung dengannya.

 

” Mbah Langgar, Aku ingin bertarung denganmu, seberapa tinggi ilmu yang kamu miliki sehingga kamu berani mendirikan sebuah padepokan,” Kata ki Joko Sari. “Bagaimana Jika Nanti kamu kalah dalam pertarungan…..?” jawab mbah Langgar dengan menatap matanya. Dengan nada tinggi ki Joko Sari berkata ” kalau aku kalah aku bersedia menjadi muridmu dan aku akan membantu keperluanmu”. “ baiklah kisanak… kalau itu maumu”, sahut mbah Langgar dengan nada tenang penuh keyakinan dan percaya diri.

 

Mereka berdua berdiri dan berjalan menuju arena pertarungan di samping padepokan untuk adu kasedik. Di tiap-tiap pojokan arena dipasang obor dari bambu sebagai penerangan. Para murid duduk bersila membuat barisan melingkar menyaksikan pertarungan akbar yang sebentar lagi akan berlangsung. Mereka mulai bertarung dengan tangan kosong, Jurus jurus silat yang meruka punyai mulai diperlihatkan. dilanjutkan dengan pertarungan menggunakan senjata tajam. Benturan senjata tajam di kegelapan menyemburkan kilatan dan percikan-percikan api dan keduanya sama sama lihai dalam memainkan permainan pedang.

 

Karena sama sama sakti dalam permainan tangan kosong dengan bermacam macam jurus silat dan sama sama lihai dalam permainan senjata tajam, mereka sepakat melanjutkan permainan ke level yang lebih tinggi. ki Joko Sari mengeluarkan senjata pamungkas yang sangat ampuh yaitu Jago Komplong yang sebelumnya tidak ada yang bisa mengalahkannya. Diangkatnya tinggi tinggi dengan kedua tangannya. Mulutnya komat kamit merapalkan mantra dan siap diarahkan ke sasaran yang di tuju.

 

Melihat gelagat ki Joko Sari dengan ilmu pamungkasnya Mbah Langgarsegara mencabut senjata yang terselib di pinggangnya dengan tangan kanan dan diacungkan ke atas serta  membaca do’a dan japa mantra, dengan kedua kaki tetap membentuk kuda kuda. senjata pamungkas beliau yaitu sebuah galih yang terbuat dari kayu yang diberi nama kiyai Nogo Sekar. Barang siapa yang terkena senjata ini dalam waktu kurang dari sehari semalam nyawanya akan melayang.

 

Para murid yang sebelumnya duduk bersila, tanpa sadar mereka berdiri semua. Dengan hati yang berdebar-debar penuh cemas mereka ingin menyaksikan akhir dari perhelatan ilmu tingkat tinggi itu. Ki Joko Sari mulai maju langkah demi langkah mendekati Mbah Langgar ingin segera mengakhiri pertempuran yang sudah memakan waktu yang sangat lama. Mbah Langgar pun dengan siap penuh kewaspadaan tanpa gentar sedikitpun maju kedepan menghampirinya. Mereka-pun mulai menyerang bergantian menggunakan pusaka masing masing. Melihat ki Joko Sari lengah, mbah Langgar langsung nmengambil kesempatan itu dan mengarahkan senjata Nogo Sekar ke tubuhnya. Seketika itu juga tubuh ki Joko Sari terlempar beberapa jengkal ke belakang dan tidak bisa bangun lagi. Mbah Langgar dengan keadaan waspada melangkah menghampiri ki Joko Sari

 

”Ampun…… Mbah langgar, aku mengakui kehebatan dan kesaktiamu. Aku bersedia menjadi murid mbah langgar”, kata ki Joko Sari dengan tubuh lemas dan suara lirih.” Baiklah kalau begitu, sekarang kamu kuakui sebagai muridku” kata mbah Langgar dengan tersenyum.

 

Mereka berdua berjabat tangan dan saling merangkul, merapatkan sentuhan kulit penuh keringat, menyatukan nada detak jantung yang masih menyisakan irama.Sejak saat itu ki Joko Sari menjadi muridnya sekaligus sebagai teman seperjuangan dalam menyebarkan agama islam. Dia diserahi menyebarkan agama islam disekitar desa Ngabul dan sekitarnya.

 

Ilmu dan Kesaktian  mbah Langgar semakin tersohor sejak kejadian itu.Angin membawa berita, menelisik daun telinga ,diantara ruang belantara, mengabarkan seorang ksatria gagah perkasa, sehingga padepokannya semakin ramai oleh santri-santri, berbondong-bondong riuh, yang ingin mencangkok ilmu darinya. Salah satu murid dan sahabat kesayangan beliau yang sangat terkenal adalah mbah Nggelang.

 

Mbah nggelang adalah seorang pemuda yang sangat giat belajar dan rajin melaksanakan tirakat-tirakat untuk mencapai ilmu yang lebih tinggi. Beliau bertempat tinggal 1 km di sebelah selatan rumah mbah Langgar. Beliau dinamakan mbah Nggelang kerena beliau selalu memakai gelang yaitu perhiasan berbentuk lingkaran yang terbuat dari seloko yang selalu dipakai di tangannya.

 

Pada suatu hari saat musim kemarau yang panjang, kering kerontang, tandus, masyarakat sangat kesulitan mendapatkan setitik air. Sumber mata air di sungai-sungai mengering, tanaman-tanaman di sawah  mati lunglai , hewan-hewan ternak kurus keriput terkapar mati kehausan. Masyarakat saat itu kebingungan menemukan sumber kehidupan,  mencoba mengais sisa-sisa mata air, ke sana ke mari, tapi semuanya kering, layu,gersang, tak satipun mata air yang mereka temukan. akhirnya mereka berkumpul dan bermusyawarah untuk mencari jalan keluar.

 

Dalam pertemuan itu mereka saling berbagi informasi, memberikan usul dan pendapat untuk mendapatkan solusi yang terbaik. Banyak sekali usulan dan pendapat yang mereka utarakan tetapi masih mengalami jalan buntu. Mereka terdiam tak berdaya, hening sepi dan hampa, putaran kepala mandeg membeku, akhirnya mereka memutuskan agar permasalahan ini dimintakan nasehat dan  jalan keluar kepada mbah Nggelang. Mereka menganggap bahwa walaupun mbah  Nggelang masih muda tapi ilmunya sangat tinggi karena beliau sangat rajin dalam melaksanakan tirakat dan lelakon.

 

Siang itu juga masyarakat secara ramai-ramai pergi ke rumah mbah Nggelang. Dari kejauhan rumah mbah Nggelang kelihatan bersih dan asri. Di samping kanan kiri rumahnya berjajar pohon- pohon besar tertata rapi membuat suasananya hijau dan sejuk. Tak lama kemudian merekapun  sampai di halaman rumah beliau. Mereka melihat ada jumbangan ( blumbang ) yang sangat besar dan dalam  di  samping halaman rumahnya. Jumbangan yang besar dan dalam itu saat musim penghujan penuh dengan air yang sangat melimpah dan  jernih. Tetapi pada saat itu mereka tidak melihat satu tetespun air yang mengalir di situ.

 

“ Di sini, di rumah mbah Nggelang juga tidak ada air……!!, buktinya jumbangannya nggak ada air” gumam mereka dalam hati. Ada sebersit keraguan,  ada setitik keputus asaan apakah mereka jadi menemui atau tidak . tetapi akhirnya merka tetap ingin menemui mbah Nggelang.

 

“ Assalamu’alaikum, kulo nuwun… ,“ sambil mengetuk pintu mereka mengucapkan salam. “Wa’alaikum salam… , Monggo Monggo…, Pinarak …“, sambut Mbah Nggelang sambil Bersalaman dengan tamunya satu per-satu dan mempersilahkan tamunya agar duduk di kursi yang terbuat dari bambu. Merekapun lantas duduk dan mulai bercakap cakap kesana kemari, berbasa basi  dan setelah sekian lama mereka mengutarakan maksud dan tujuannya.

 

“Begini mbah Nggelang….., maksud kedatangan kami adalah mau minta tolong kepada Mbah Nggelang, agar kami mendapatkan air. Kemarau yang panjang ini menyebabkan tanaman banyak yang mati, hewan ternak lesu cemberut, dan kebutuhan  kami sehari-hari seperti memasak, mandi dan mencuci sering tak terpenuhi,” kata seorang warga sebagai juru bicara mewakili teman – temannya.

 

Mbah Nggelang terdiam sesaat, berfikir menjelajah cakrawala, mencoba mencari jawaban atas masalah yang diderita warga. Para tamu termangu, menunggu tak sabar ingin mengetahui apa petuah yang dimiliki oleh mbah nggelang itu.” Besok siang saat tengah hari, saat sang mentari tepat diatas kepala,  kita berkumpul di sini dan berdoa bersama kepada sang pencipta, memohon agar hajat yang kalian inginkan bisa tercapai,”Kata Mbah Nggelang dengan nada yang terang dan jelas penuh kebijaksanaan.

 

”Baiklah… besok siang kami semua akan datang kemari beramai – ramai, berdoa bersama-sama dengan Mbah Nggelang,” sahut mereka dengan penuh pengharapan dan keyakinan”.

 

“Jangan lupa masing-masing membawa sedekah seadanya dan salah satu di antara kalian ada yang membawa jajan pasar yaitu rujak cendol satu kwali besar. Setelah berdo’a nanti kita makan bersama- sama dan selebihnya nanti kita bagi kepada fakir miskin yang membutuhkan,” sambung Mbah Nggelang melanjutkan ucapannya.

 

Mereka mendengarkan dengan seksama  apa yang diucapkan Mbah Nggelang dengan kepala mengangguk – angguk, pertanda mereka mengerti.setelah pembicaraan dirasa sudah cukup,Mereka berniat minta pamit untuk pulang ke rumah masing – masing.” Kami semua berterimakasih kepada Mbah Nggelang dan minta maaf telah mengganggu istirahat siang mbah nggelang,kami permisi mau pulang ke rumah,” kata salah satu dari mereka sambil berdiri dan  bersalaman dengan mbah nggelang.

 

Keesokan harinya,  mereka dengan suka cita, mempersiapkan segala sesuatunya untuk upacara ritual, berdoa kepada sang Maha Kuasa, meminta didatangkan air untuk menyambung kebutuhan mereka. Semua  dapur mengepulkan asap menebarkan aroma masakan yang menusuk hidung. Ada yang memasak nasi dan lauk pauk lengkap dengan uraban sayur mayur, dan sebagian ada yang mempersiapkan jajan pasar lengkap dengan rujak cendol seperti yang dipesankan mbah Nggelang dan sebagian lagi mempersiapkan wadah-wadah makanan yang sangat cantik yang terbuat dari anyaman bambu seperti tenong,tumbu, besek, kreneng, senik,dll.

 

Siang itu terik matahari memamerkan sinarnya yang sangat ganas dan  menyengat. Satu persatu masyarakat berduyun- duyun datang dan berkumpul di bibir jumbangan di samping  rumah mbah nggelang. Sedekah dan jajan pasar ditempatkan di samping mereka masing masing. Setelah beberapa saat kemudian  Mbah nggelang keluar dari rumahnya dengan berpakaian putih-putih dan gelang yang terbuat dari seloko melingkar di pergelangan tangannya. Beliau duduk dekat kwali besar yang berisi rujak cendol, bersila dan menghadap ke kiblat. Kedua tangannya diangkat terbuka ke atas, bibirnya komat kamit mulai merapalkan  doa jopo montro diikuti oleh semua yang hadir mengamini. Setelah selesai berdo’a mereka dipersilahkan menyantap makanan yang mereka bawa dan meminum rujak cendol yang ada dikwali dan menyisihkan sebagian makanannya untuk diberikan kepada fakir miskin yang sangat membutuhkan.

 

Beberapa saat kemudian mereka mulai membereskan bawaannya, pertanda acara ritual sudah selesai dan bersiap siap kembali ke rumah masing- masing. Mereka berjalan kaki menyusuri pematang sawah yang kering kerontang, sambil berharap semoga do’a yang dipimpin oleh mbah nggelang tadi bisa terkabul dan segera bisa mendatangkan air?

 

Tiba-tiba langit yang semula biru,  berubah menjadi gelap dan hitam pekat, awan teball menyelimuti cakrawala yang membalut pancaran sang surya yang tak lagi memantul, ”glegarrr….,”suara Guntur menggelegar diikuti kilatan petir yang memekik telinga….angin sejuk menembus pori-pori di sela-sela keringat dan tak lama kemudian air hujan jatuh dari langit sangat deras mengguyur tanah  kering yang sekian lama merindukan datangnya  sang air.

 

Masyarakat yang sudah lama mendambakan datangnya air hujan, menyambut dengan penuh suka cita. Wajah lusuh, kotor dan berbau sirna diguyur oleh jutaan tetesan air.Mereka segera mengambil wadah -wadah yang terbuat dari gerabah ,seperti buyung  dan genuk , diisi penuh dengan air sampai tumpah ruah. Sebagian ada yang hujan- hujanan sambil bernyanyi dan menari, anak anak menyambutnya dengan bermain main lumpur, hewan – hewan ternak dimandikan dan diberi minum sepuasnya.

 

Mbah nggelang melihat kejadian itu merasa bersyukur kepada sang pencipta akan dikabulkannya permintaan warganya. Beberapa masyarakat mendatangi Mbah Nggelang, menjabat tangan beliau dan mengucapkan banyak terima kasih. ”Terima kasih Mbah Nggelang, berkat Mbah Nggelang kami semua bisa mendapatkan air yang sangat melimpah ruah,” kata salah satu dari mereka. “ Jangan berterima kasih kepada saya, tapi berterima kasihlah kepada sang maha kuasa yang telah berkuasa melimpahkan anugerah-Nya untuk kita semua,” sahut Mbah Nggelang merendah dan meluruskan,”

 

Sejak kejadian itu, masyarakat ketika menemui kemarau panjang dan sulit mendapatkan air, selalu mendatangi mbah Nggelang. Sang penolong yang muda belia, berjama’ah mengawal lantunan do’a, agar dimintakan kepada sang pencipta, dengan membawa sedekah dan rujak cendol.

 

 

Kehebatan dan ketinggian ilmu yang dimiliki oleh Mbah Langgar, sahabat dan murid muridnya terdengar sampai ke luar desa. Tetapi Mbah Langgar mewanti – wanti kepada sahabat dan murid-muridnya supaya tidak memamerkan ilmu yang dimiliki, tidak sesumbar dan tidak membusungkan dada. Setiap langkah dan perbuatannya  bersih nan ikhlas, tak ingin dipuji oleh gombalan pujian manusia.  Kabar kehebatan Mbah Langgar tersebar sampai ke kadipaten Njeporo ( Jepara ) yang saat itu dipimpin oleh Raden Ayu Nyai Ratu Kali Nyamat.

 

Raden Ayu Nyai Ratu Kali Nyamat memerintahkan kepada salah satu prajuritnya supaya menemui Mbah Langgar. Prajurit itu segera melaju ke arah timur dengan memacu se-ekor kuda jantan berwarna hitam.tak lama kemudian dia sudah sampai di samping halaman rumah Mbah Langgar. “ Assalamu’alaikum……..kulo nuwun….,” kata prajurit sambil turun dari kudanya.” Wa’alikumsalaaam……monggo…monggo… “ Jawab Mbah Langgar sambil keluar dari langgarnya.mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri, sambil duduk di bawah pohon besar yang rindang.” Begini Mbah Langgar…. Raden Ayu Nyai Ratu Kalinyamat ingin berjumpa dengan Mbah Langgar di  kadipaten Njeporo.” Kata prajurit mengutarakan maksudnya.”Baiklah Prajurit,mari kita berangkat bersama sama sekarang,” Kata Mbah Langgar sambil berganti pakaian yang berwarna hijau – hijau, pakaian kebesaran  kesukaannya.

 

Mbah Langgar bersama embannya nyai Siti Rukoyyah dan prajurit segera meninggalkan rumahnya menuju ke kadipaten Njeporo.Gapura besar dan megah terbuat dari susunan batu bata merah berdiri tegak di depan pintu utama istana. Nyai Ratu kalinyamat yang cantik itu duduk di kursi singgahsana memancarkan keanggunan dan sekaligus kewibawaannya.Mbah Langgar dan prajurit, duduk bersila di lantai , menghaturkan sungkem idi pangestu, dengan merapatkan kedua telapak tangannya seraya menundukkan kepala.Mereka bercakap cakap lama sekali, berbicara masalah – masalah sosial ,budaya dan keagamaan, kadang kadang dibumbui guyonan – guyonan yang membuat akrab dan suasananya santai dan tidak kaku.

 

Raden Ayu Nyai Ratu Kalinyamat sangat menikmati perbincangan itu. Suasana hangat menentramkan jiwa, bahasa yang terucap halus, penuh gurauan canda tawa, kadang saling mencurii pandang  dengan sorot mata manja memikat. Butir butir cinta mulai tumbuh bersemi, bunga mawar berseri seri setelah sekian lama layu, kumbang jantan terdiam tersipu malu. Kharisma yang dimiliki Mbah Langgar, dengan wajah yang sangat tampan membuat Nyai Ratu Jatuh Hati.

 

“ Mbah Langgar, Aku sudah lama tak bersuami lagi, sudikah kiranya kamu menjadi pendamping hidupku…!! Ucap Nyaii ratu penuh percaya diri dengan kekuasaannya. Mbah Langgar terdiam kaget…, terkesima…, tidak pernah menyangka ada pertanyaan seperti  itu. “ Lho… ko’ malah terdiam…? Sambung Nyai Ratu menanti jawaban.Mbah Langgar terdiam,keringat dingin bercucuran, tak kuasa merangkai kata – kata,membisu seribu bahasa dan dia merasa serba salah. Sebenarnya dalam hatinya juga terbersit perasaan cinta karena nyai ratu adalah perempuan yang sangat cantik,kulitnya putih langsap, rambutnya hitam berkilau, tutur sapanya halus dan manja, tapi dia merasa tidak pantas bersanding dengan junjungannya.

 

“ Aaa….Ampun Ndoro Putri, sss…saya merasa tidak pantas bersanding dengan ndoro putri,saya hanyalah orang biasa yang tidak mempunyai kelebihan apa – apa, dan hamba belum mempunyai niat untuk berumah tangga,” Jawab Mbah Langgar dengan terbata bata dan kepala tertunduk.

 

Mendengar jawaban Mbah Langgar itu, Nyai Ratu merasa cintanya bertepuk sebelah tangan, cintanya tak bersambut.Padahal memang sudah menjadi kebiasaan mbah Langgar, bahwa dia selalu rendah hati, lembah manah dan tidak suka membusungkan dada.Sebenarnya Mbah Langgar juga mencintainya, tetapi beliau tidak berani mengambil keputusan secepat itu.

 

“ Berarti kamu menolak cintaku..!!!, Tanya nyai Ratu dengan muka kecewa.” Ampun Nyai ratu, beri Hamba untuk memikirkan ini,  sehari dua hari, hamba belum bisa menjawab sekarang ndoro Putri…! Jawab Mbah Langgar Dengan suara lirih, dan sesekali melihat mata nyai ratu yang berkaca kaca.” Ya sudahlah, sekarang kamu boleh meninggalkan tempat ini… !! Ucap Nyai Ratu sambil membalikkan badannya.” Wah..kelihatannya Nyai ratu salah faham, bukannya aku menolak cintanya nyai ratu, tetapi Aku hanya ingin minta sedikit waktu untuk memikirnya,” Gumam Mbah Langgar dalam hati.

 

Sore menjelang maghrib, awan merah berkumpul di ujung barat, Mbah Langgar segera minta pamit meninggalkan tempat itu.Dalam perjalanan pulang Mbah Langgar yang ditemani embannya merasa gelisah dan khawatir karena telah mengecewakan perasaan nyai ratu.disamping sangat cantik Nyai Ratu juga terkenall mempunyai ilmu yang sangat tinggi.Beliau sangat rajin berpuasa dan bertapa untuk mendapatkan ilmu kedigjayaan tingkat tinggi.Mbah Langgar merasa ada sesuatu yang akan terjadi di tempat tinggalnya.Mereka berdua mempercepat langkahnya dengan p[enuh kewaspadaan karena takut terjadi apa apa.

 

Sementara itu di Kadipaten Njeporo Nyai Ratu masuk ke bilik kamar pribadinya. Ruangan dengan semerbak harum bunga,tak seorangpun boleh memasukinya.“ Aku ingin tahu seberapa hebat ilmu yang dimiliki Mbah Langgar, sehingga berani menolak permintaanku, “ Kata Nyai Ratu dalam Hati.Nyai Ratu duduk bersila di pojok kamar sambil komat kamit merapalkan mantra.asap dupa mengepul di depannya menebarkan aroma mistik.Bunga tujuh rupa memenuhi tempayan yang terletak diatas meja kecil di sampingnya.Nyai Ratu berkonsentrasi mengeluarkan kedigjayaan ilmunya.” Aku akan menenggelamkan tempat kediaman Mbah Langgar dengan air yang sangat besar seperti lautan,” bisik Nyai Ratu dalam hati.

 

Di tengah perjalan saat tengah malam, Mbah langgar dan Embannya hampir sampai di perbatasan desa sebelah barat. Beliau tidak bisa meneruskan perjalanannya karena terhalang ( ketandog ) bebatuan. Semua jalan yang semula biasa di lalui tertutup rapat oleh bebatuan besar.Ini semua adalah ilmu yang dikirimkan oleh Nyai Ratu Kalinyamat untuk menghalang–halangi perjalanan pulangnya.

 

Mbah Langgar mengeluarkan ilmunya, sambil memejamkan mata dalam keadaan berdiri beliau berdoa supaya batu batu yang menghalangi ( Nandogi ) Jalannya bisa sirna.

Seketika itu juga batu batu besar bergerak menyamping ke kanan dan ke kiri, sehingga tidak menghalangi jalannya. Sekarang daerah itu dinamakan dukuh TENDOG, karena waktu itu Mbah Langgar ke-Tandog bebatuan.

 

Karena kejadian itu Mbah Langgar semakin yakin bakal terjadi sesuatu di sekitar tempat tinggalnya. Mereka segera mempercepat langkahnya dengan obor ditangannya sebagai penerang.Kali ini mereka tidak hanya berjalan, tetapi berlari laksana angin, menerobos ruang dan waktu,berkelebat menyelinap di kegelapan malam,agar segera cepat sampai di rumahnya.setelah beberapa waktu kemudian mereka kaget dengan kejadian yang nampak di depan mata.Perkampungan tempat tinggalnya dipenuhi air besar bergelombang, seperti lautan yang datangnya entah  dari mana.

 

“ Ini Pasti ilmu kiriman Nyai Ratu “ Terka Mbah Langgar penuh keyakinan.Mbah Langgar dan Embannya nggak bisa ke tempat tinggalnya karena terhalang oleh air yang semakin besar semakin besar dan semakin dalam. “ sebaiknya kita berenang  (Nglangi)agar kita bisa sampai di rumah dan  menyelamatkan penduduk sekitar tempat tinggal kita,” Kata mbah Langgar kepada embannya.

 

Tanpa membuka pakaiannya mereka berenang (nglangi) mengarungi air yang deras munuju tempat tinggalnya.Ayunan kedua lengan tangan  memecah, membelah, kejamnya genangan air.Kedua kaki mengayuh menyibak sekumpulan air.Tiba – tiba di tengah perjalanan dalam keadaan gelap, ada sebuah ular besar, panjang bersisik dan bertaring tajam, menyemburkan bisa api yang keluar dari mulutnya.Ular besar itu sesekali mengangkat kepalanya tinggi tinggi mendemonstrasikan keganasannya.Nyai siti ruqoyyah pembantunya itu menjerit histeris sambil berteriak …!!

 

“ awas..!! Mbah Langgar….Ada ular besar….,” kata ruqoyyah spontan sambil menudingkan telunjuk tangannya ke arah ular itu . “Itu bukan ular… tapi potongan kayu besar yang hanyut di air…!!! Sangkal Mbah Langgar mencoba menenangkan pembantunya itu yang mulai gugup dan mulai ketakutan.” Bukan kayu Mbah Langgar….. itu adalah ular yang sangat menakutkan…!!, Bantah siti Ruqoyyah meyakinkan.Sebenarnya Mbah Langgar tahu bahwa yang di lihat embannya itu adalah memang seekor ular yang diberi nama ular Naga Sekar, tetapi dia tak ingin Embannya mati kaku di makan oleh ketakutannya sendiri.” Kamu salah !! itu bukan ular tapi kayu besar yang hanyut di air” sanggah Mbah Langgar kembali menenangkannya.

 

Sambil berenang Mbah Langgar tak henti hentinya memohon kepada sang pemelihara agar perjalanannya selamat sampai tujuan dan bisa menghadapi segala rintangan rintangan yang terjadi.mereka berdua maju terus melanjutkan berenang walau di depannya ada ular besar.Mbah Langgar berada di depan dan pembantunya yang masih ketakutan brada di belakangnya.Ular itu berkelebat Maju ke depan dan siap memangsa mereka, dengan membuka mulutnya yang bertaring itu.tetapi kejadian aneh terjadi, tiba tiba ular itu seketika berubah menjadi  jinak seraya menjelma menjadi kayu besar dan dijadikan pegangan mereka berdua.

 

Tak Lama kemudian, sampailah mereka berdua di rumah tempat tinggalnya. ketika sampai di tepi daratan,tiba-tiba kayu besar tadi berubah lagi menjadi ular dan berputar-putar menyibak air dan melingkar-lingkar mengitari tempat tinggal Mbah Langgar dan berubah lagi menjadi kayu besar. Sementara  Air semakin unjuk gigi,semakin deras, meninggi meninggalkan permukaan tanah, menelan material  rumah dan langgar mereka, sampai setinggi dada orang dewasa

 

.Mbah Langgar yakin ini bukan air biasa tetapi air kiriman dari ilmu kesaktian Nyai Ratu.Beliau berdiri menghadap kiblat dengan menyilangkan kedua tangangannya di dadanya.bibirnya merapalkan japa mantra sambil memejamkan mata.sementara embannya hanya bisa menyaksikan dari belakang sambil menangis ketakutan, dengan tubuh menggigil kedinginan.

 

Tak lama kemudian, permukaan tanah tempat tinggalnya,dengan  Pohon besar yang tumbuh kokoh di sekelilingnya,sedikit demi sedikit bergerak ke atas menjauhi  dataran air. Nyai Siti Ruqoyyah terheran heran dengan kejadian itu sambil menggeleng nggelengkan kepalanya, dan sesekali mengernyitkan keningnya.Tetapi air terus bergerak, semakin deras dan ganas, ingin menenggelamkan tempat itu, seakan nggak mau kalah dengan meninnginya dataran itu.Mbah Langgar meneruskan ilmunya dan dataran itu kembali meninggi terus meninggalkan permukaan air.

 

Tiba-tiba Mbah Langgar teringat kejadian siang itu. “ Nyai Ratu salah faham terhadap jawaban saya…., sehingga  menganggap, cintanya saya abaikan dan membuat Nyai Ratu sakit hati. Kalau sekarang kesaktiannya saya kalahkan dengan ilmu yang saya miliki, akan membuat Nyai Ratu tambah sakit hati dan tidak akan memaafkan saya”.Kata Mbah Langgar dalam hati. “sebaiknya saya berpura pura kewalahan dan tidak kuwasa menandingi ilmu Nyai Ratu”. Kata Mbah Langgar dalam renungannya.

 

 

 

Mbah Langgar memerintahkan kepada Embannya agar segera meminta penduduk sekitar ikut mengatasi masalah tersebut. Melihat kejadian itu Nyai Ruqoyyqh lari kearah timur dan meminta masyarakat sekitar untuk menjemur kapas dan membakar tumpukan jerami. Seketika itu juga masyarakat menjemur kapas mereka seakan akan saat itu sudah pagi dan sudah ada cahaya kemerah merahan seakan-akan sang mentari sebentar lagi akan terbit di ufuk timur. Melihat tanda -tanda itu Nyai Ratu menghentikan amalan ilmunya dan memaafkan kejadian siang itu lalu berangsur angsur air itu surut. Mbah Langgarpun menghentikan ritualnya pertanda keadaan sudah aman terkendali. Berkat kesaktian Mbah Langgar dan kerja sama masyarakat kejadian itu bisa diatasi.

 

Keesokan hari air itu sudah hilang entah ke mana, seakan akan kejadian semalam tidak pernah terjadi. Tetapi dataran tanah yang meninggi  dari dataran sekelilingnya masih berupa gundukan semacam bukit kecil dengan ketinggian sekitar sepuluh depa.

 

Dari kejadian tersebut  kampung itu dinamakan desa Langon diambil dari peristiwa Mbah Langgar Nglangi (berenang) untuk menyelamatkan kampung yang mau tenggelam.

 

Akhirnya  Mbah Syekh Abdul Chamid  atau disebut Mbah Langgar mensyiarkan agama di desa Langon hingga akhir hayatnya dan beliau juga dimakamkan di desa Langon tepatnya di gunung kecil yang dulu sebagai tempat tinggal dan tempat beribadah beliau yaitu di lokasi lanngar tersebut. Dan mudah-mudahan amal bakti beliau, pengorbanan beliau, pengabdian beliau untuk mensyiarkan agama islam di desa Langon senantiasa mendapatkan berkah, dan ridlo dari Allah swt. Sehingga beliau ditempatkan ditempat yang layak disisi Allah swt. Amin. Dan kita sebagai generasi berikutnya mudah-mudahan bisa meneruskan dan melestarikan perjuangan beliau untuk mensyiarkan dan memajukan agam islam di desa Langon yang kita cintai bersama. Amin. Demikian cerita singkat ini mudah-mudahan bermanfaat bagi kita bersama. Amin

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan